Bab 1
Wulan
Pagi ini merupakan awal semester yang menyeramkan bagiku. Bagaimana tidak, Aku baru saja masuk sekolah yang sama sekali bukan pilihanku, mengawali tahun ajaran baru dengan Masa Orientasi Siswa yang pastinya akan melelahkan dan mengerahkan seluruh tenaga dan fikiranku, serta bertemu teman baru (semoga aja temannya asik!!!). aku ini termasuk anak yang sangat pemalu hingga tak mudah bagiku untuk mendapatkan teman. Tapi aku bertekat untuk merubah sedikit kebiasaanku itu, setidaknya hingga aku telah mengenal semua calon teman baruku.
Oh iya, perkenalkan namaku Wulan Julia. Aku merupakan sulung dari tiga bersaudara. Yang pastinya selalu dan harus selalu bersabar untuk berbagi kekedua adikku yang semuanya laki-laki. Kadang aku sering berfikir bahwa aku memang bukanlah kakak yang baik bagi kedua adikku. Fikiranku sering jahat, aku selalu saja iri saat adik-adikku dibelikan mainan baru atau baju baru oleh bunda, aku juga termasuk orang yang tidak mau mengalah dan mudah emosi.
Ayah dan bunda adalah orang bali. Terkadang aku sering merasa bangga menjadi seorang keturunan Bali. Tetapi tak jarang aku selalu bosan menjadi seorang keturunan orang Bali. Wayahku (panggilan untuk kakek) tinggal di sebuah desa di daerah singaraja yang bernama desa sangsit. Rumahnya sangat dekat dengan pantai, hingga tak jarang jika aku sedang berlibur kesana aku selalu menyempatkan diri sekedar untuk melihat sunset disana.
Sedangkan keluarga dari ayahku menetap didaerah badung. Tepatnya disebelah kota Denpasar. Kala sedang berlibur aku sangat senang menelusuri sawah-sawah kepunyaan pekak (sebutan untuk kakek, ayah dari ayahku). Dan aku juga senang berjalan-jalan dengan kakak sepupuku. Namanya Anton. Selain baik dia juga sangat sabar menemaniku berbelanja di pasar seni sukowati dan juga jika aku sedang ketagihan untuk main boom-boom car yang biasanya bisa menghabiskan puluhan ribu rupiah untuk bermain permainan tersebut dan waktu berjam-jam. Pokoknya he’s the best brother.
Aku baru saja memasuki pintu gerbang sekolah baruku yang bernama Moonzher. Sekolah yang sama sekali nggak membuatku tertarik untuk menuntut ilmu hanya karena aku tidak satu sekolah dengan sahabat baikku Tata. Memang sebelumnya aku dan tata berniat untuk masuk disekolah yang sama, akan tetapi aku tak lolos masuk SMA Negri favorit di daerah tangerang kota itu hanya karena nemku tak mencukupi untuk masuk kesekolah itu. Alhasil dengan terpaksa aku masuk kesekolah pilihan ayah ini.
Tata mamang pintar sehingga hasil nemnya mencukupi untuk masuk sekolah itu. Dan Tata berhasil maninggalkan aku sendirian disekolah ini.
Humfffttt…
Sebenarnya tidak benar-benar sendirian kok karena masih ada Febri dan Dita yang merupakan teman baikku sewaktu di SMP dulu.
Febri merupakan teman baikku sewaktu SMP dia anak yang cerdas dan rajin. Aku pernah satu kelas dengannya sewaktu dikelas VIII. dia juga merupakan tipe orang yang humoris. Aku sempat sedih sewaktu tahu bahwa aku tidak sekelas lagi dengannya dikelas sembilan.
Sedangkan Dita adalah temanku sejak kelas tiga SD. jarak dari rumahnya sangat dekat dengan rumahku, sehingga dulu aku dan Dita selalu berangkat sekolah bersama-sama. Mungkin hal yang sama akan terulang mengingat kami satu sekolah lagi sekarang.
Dan Tata adalah teman sekaligus sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Dia anak yang sangat pintar dan cerdas. Aku mulai bersahabat dengannya semenjak pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah dasar negri 2. aku selalu ingat, dulu sewaktu kami duduk di kelas empat. Tata selalu bilang padaku bahwa ia ingin sekali menjadi seorang penyanyi dan akupun memiliki angan-angan yang sama sepertinya.
Hingga sewaktu ketika aku dan Tata pernah diam-diam memasuki ruang guru dan mengambil microphone yang tersimpan disana dan bernyanyi layaknya seorang penyanyi tanpa menyadari suara kami terdengar hingga satu sekolah. Menyadari ada yang tidak beres, seorang guru mencari sumber suara kami dan menasihati kami berdua. Hal memalukan yang tak akan pernah aku lupakan hingga kapanpun.
Aku mengikuti arus para siswa baru berbaris untuk mengikuti apel pagi sekaligus sambutan untuk para siswa baru. Setelah selesai sambutan dari kepala sekolah dan wakilnya, dilanjutkan dengan sambutan dari OSIS kemudian pengenalan korlas atau koordinator kelas yang akan ngebimbing setiap kelas. Aku memperhatikan anak-anak calon temanku. Tak banyak yang kukenal. Akhirnya apel pagi ini selesai dan anak “Nebula” (itulah nama gugus kelasku disekolah ini yang diberitahu sekilas oleh kakak OSIS sewaktu apel tadi) memasuki kelas yang sesuai dengan nama gugus kami.
Dan kalau pendengaranku tak salah warna dari gugus nebula adalah warna abu-abu. Mengapa tak sekalian warna ungu?? Aku memang sangat menyukai warna ungu, entah setiap kali aku melihat warna itu fikiranku selalu tenang. Telah beberapa kali aku meminta bunda agar kamarku bisa dicat warna ungu, tetapi tampaknya bunda kurang setuju dengan pilihan warnaku. Karena menurutnya warna ungu terlalu gelap untuk ruangan tidurku. tetapi aku akan selalu mendesak bunda yang mungkin saja akan berubah fikiran dan mencat ruangan tidurku dengan warna kesukaanku. Mungkin akan ku tanyakan pada kakak kelas yang menjadi “tim kreatif” mengapa mereka memberikan warna abu-abu pada gugusku.
“Wulan” sebuah suara mendadak menyapaku, aku menoleh ke sumber suara itu. Seorang perempuan berambut panjang dan tinggi sekitar 160 cm yang tadi menyapaku berlari kecil kearahku.
“hei! Lan lo duduk sama gue yaa??” pintanya
“mmm.. oh iya tentu, gue juga masih bingung kok mau duduk sama siapa” kataku bingung. Hey, darimana ia tahu namaku?
“oh iya kita belum kenalan kan? Nama gue Novi” Novi memberikan senyum padaku sambil mengulurkan tangannya.
Dibahunya terpasang badge asal sekolahnya SMP PUSAKA NUSA, ya ampun itu kan juga asal sekolahu kenapa aku sampai tidak mengenalinya? Well, memang sewaktu SMP dulu aku kurang banyak bersosialisasi. Ya, bisa dibilang hidupku itu Cuma “buku”, akan tetapi aku juga memang tak sepintar febri atau dita sahabatku sewaktu SMP dulu yang masing-masing pernah menjuarai olimpiade matematika dan science, karena buku-buku yang ku baca bukanlah buku yang berkaitan dengan plajaran melainkan novel, komik, dan sejenisnya.
Bunda saja sampai lelah membereskan tumpukan buku yang selalu berserakan di kamarku sampai suatu ketika aku kehilangn salah satu koleksi novelku, lalu aku menuduh bunda telah menghilangkannya dengan alasan bunda yang tiap waktu membereskan buku-buku dikamarku. Hingga akhirnya beberapa bulan kemudian salah seorang teman sekelasku datang kerumah seraya mengembalikan novel yang kucari-cari beberapa bulan yang lalu. Aku meminta maaf dan berjanji gak akan mengulangi kejadian itu lagi.
“eh, Lan duduk disini aja strategis” kata Novi, membuyarkan lamunanku yang kelayapan ga karuan “oh iya lo kaget ya gue tau nama lo??” lanjutnya lagi
“sebenarnya sih iya.. emangnya lo tau dari mana?”
“gue tau dari anak kelas sebelah, katanya dia pernah sekelas sama lo trus dia bilang lo pinter, yaudah deh gue duduk sama lo” kata Novi dengan antusiasnya. Wait.. apa katanya, aku pintar?? Whoa.. padahal sewaktu SMP saja aku belum pernah masuk peringkat 3 besar, yah.. walaupun bunda selalu bangga dengan peringkat raporku yang selalu masuk 10 besar.
“oh, begitu” aku melemparkan senyuman termanisku untuk Novi teman baruku.
Aku memperhatikan Novi sepertinya dia anak yang asyik, ceria, walaupun suka melebih-lebihkan sesuatu hal tapi aku yakin ada sesuatu hal yang kelihatan seperti membebaninyaitu terlihat dari mata dan tingkah lakunya yang berbeda dari yang lain, mungkin dapat kutanyakan pada Novi kapan-kapan.
Tiba-tiba kelas menjadi hening sesaat. Rasa canggungpun melanda seluruh anak dikelas ini termasuk aku. Mungkin ini takkan berlangsung lama. Wajar saja karena ini merupakan hari pertama sebagai anak baru disekolah ini.
*** ***
Minggu, 08 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar